Sabtu, 25 Agustus 2012

Pembelajar Tiada Henti

Kenapa Harus Wanita Shalihah?

14/12/2010 | 07 Muharram 1432 H | Hits: 55.385
Oleh: Ario Muhammad
Kirim Print
dakwatuna.com – Bismillah..
Ilustrasi (Danang Kawantoro)
Terkadang orang heran dan bertanya, kenapa harus mereka?
Yang bajunya panjang, tertutup rapat, dan malu-malu kalau berjalan..
Aku menjawab.. Karena mereka, lebih rela bangun pagi menyiapkan sarapan buat sang suami dibanding tidur bersama mimpi yang kebanyakan dilakukan oleh perempuan lain saat ini..
Ada juga yang bertanya, mengapa harus mereka?
Yang sama laki-laki-pun tak mau menyentuh, yang kalau berbicara ditundukkan pandangannya.. Bagaimana mereka bisa berbaur…
Aku menjawab.. Tahukah kalian.. bahwa hati mereka selalu terpaut kepada yang lemah, pada pengemis di jalanan, pada perempuan-perempuan renta yang tak lagi kuat menata hidup. Hidup mereka adalah sebuah totalitas untuk berkarya di hadapan-Nya.. Bersama dengan siapapun selama mendatangkan manfaat adalah kepribadian mereka.. Untuk itu, aku menjamin mereka kepadamu, bahwa kau takkan rugi memiliki mereka, kau takkan rugi dengan segala kesederhanaan, dan kau takkan rugi dengan semua kepolosan yang mereka miliki.. Hati yang bening dan jernih dari mereka telah membuat mereka menjadi seorang manusia sosial yang lebih utuh dari wanita di manapun..
Sering juga kudengar.. Mengapa harus mereka?
Yang tidak pernah mau punya cinta sebelum akad itu berlangsung, yang menghindar ketika sms-sms pengganggu dari para lelaki mulai berdatangan, yang selalu punya sejuta alasan untuk tidak berpacaran.. bagaimana mereka bisa romantis? bagaimana mereka punya pengalaman untuk menjaga cinta, apalagi jatuh cinta?
Aku menjawab..
Tahukah kamu.. bahwa cinta itu fitrah, karena ia fitrah maka kebeningannya harus selalu kita jaga. Fitrahnya cinta akan begitu mudah mengantarkan seseorang untuk memiliki kekuatan untuk berkorban, keberanian untuk melangkah, bahkan ketulusan untuk memberikan semua perhatian.
Namun, ada satu hal yang membedakan antara mereka dan wanita-wanita lainnya.. Mereka memiliki cinta yang suci untuk-Nya.. Mereka mencintaimu karena-Nya, berkorban untukmu karena-Nya, memberikan segenap kasihnya padamu juga karena-Nya… Itulah yang membedakan mereka..
Tak pernah sedetikpun mereka berpikir, bahwa mencintaimu karena fisikmu, mencintaimu karena kekayaanmu, mencintaimu karena keturunan keluargamu.. Cinta mereka murni.. bening.. suci.. hanya karena-Nya..
Kebeningan inilah yang membuat mereka berbeda… Mereka menjadi anggun, seperti permata-permata surga yang kemilaunya akan memberikan cahaya bagi dunia. Ketulusan dan kemurnian cinta mereka akan membuatmu menjadi lelaki paling bahagia..
Sering juga banyak yang bertanya.. mengapa harus mereka?
Yang lebih banyak menghabiskan waktunya dengan membaca Al-Qur’an dibanding ke salon, yang lebih sering menghabiskan harinya dari kajian ke kajian dibanding jalan-jalan ke mall, yang sebagian besar waktu tertunaikan untuk hajat orang banyak, untuk dakwah, untuk perubahan bagi lingkungannya, dibanding kumpul-kumpul bersama teman sebaya mereka sambil berdiskusi yang tak penting. Bagaimana mereka merawat diri mereka? bagaimana mereka bisa menjadi wanita modern?
Aku menjawab..
Tahukah kamu, bahwa dengan seringnya mereka membaca al Qur’an maka memudahkan hati mereka untuk jauh dari dunia.. Jiwa yang tak pernah terpaut dengan dunia akan menghabiskan harinya untuk memperdalam cintanya pada Allah.. Mereka akan menjadi orang-orang yang lapang jiwanya, meski materi tak mencukupi mereka, mereka menjadi orang yang paling rela menerima pemberian suami, apapun bentuknya, karena dunia bukanlah tujuannya. Mereka akan dengan mudah menyisihkan sebagian rezekinya untuk kepentingan orang banyak dibanding menghabiskannya untuk diri sendiri. Kesucian ini, hanya akan dimiliki oleh mereka yang terbiasa dengan al Qur’an, terbiasa dengan majelis-majelis ilmu, terbiasa dengan rumah-Nya.
Jangan khawatir soal bagaimana mereka merawat dan menjaga diri… Mereka tahu bagaimana memperlakukan suami dan bagaimana bergaul di dalam sebuah keluarga kecil mereka. Mereka sadar dan memahami bahwa kecantikan fisik penghangat kebahagiaan, kebersihan jiwa dan nurani mereka selalu bersama dengan keinginan yang kuat untuk merawat diri mereka. Lalu apakah yang kau khawatirkan jika mereka telah memiliki semua kecantikan itu?
Dan jangan takut mereka akan ketinggalan zaman. Tahukah kamu bahwa kesehariannya selalu bersama dengan ilmu pengetahuan.. Mereka tangguh menjadi seorang pembelajar, mereka tidak gampang menyerah jika harus terbentur dengan kondisi akademik. Mereka adalah orang-orang yang tahu dengan sikap profesional dan bagaimana menjadi orang-orang yang siap untuk sebuah perubahan. Perubahan bagi mereka adalah sebuah keniscayaan, untuk itu mereka telah siap dan akan selalu siap bertransformasi menjadi wanita-wanita hebat yang akan memberikan senyum bagi dunia.
Dan sering sekali, orang tak puas.. dan terus bertanya.. mengapa harus mereka?
Pada akhirnya, akupun menjawab…
Keagungan, kebeningan, kesucian, dan semua keindahan tentang mereka, takkan mampu kau pahami sebelum kamu menjadi lelaki yang shalih seperti mereka..
Yang pandangannya terjaga.. yang lisannya bijaksana.. yang siap berkeringat untuk mencari nafkah, yang kuat berdiri menjadi seorang imam bagi sang permata mulia, yang tak kenal lelah untuk bersama-sama mengenal-Nya, yang siap membimbing mereka, mengarahkan mereka, hingga meluruskan khilaf mereka…
Kalian yang benar-benar hebat secara fisik, jiwa, dan iman-lah yang akan memiliki mereka. Mereka adalah bidadari-bidadari surga yang turun ke dunia, maka Allah takkan begitu mudah untuk memberikan kepadamu yang tak berarti di mata-Nya… Allah menjaga mereka untuk sosok-sosok hebat yang akan merubah dunia. Menyuruh mereka menunggu dan lebih bersabar agar bisa bersama dengan para syuhada sang penghuni surga… Menahan mereka untuk dipasangkan dengan mereka yang tidurnya adalah dakwah, yang waktunya adalah dakwah, yang kesehariannya tercurahkan untuk dakwah.. sebab mereka adalah wanita-wanita yang menisbahkan hidupnya untuk jalan perjuangan.
Allah mempersiapkan mereka untuk menemani sang pejuang yang sesungguhnya, yang bukan hanya indah lisannya.. namun juga menggetarkan lakunya.. Allah mempersiapkan mereka untuk sang pejuang yang malamnya tak pernah lalai untuk dekat dengan-Nya.. yang siangnya dihabiskan dengan berjuang untuk memperpanjang nafas Islam di bumi-Nya.. Allah mempersiapkan mereka untuk sang pejuang yang cintanya pada Allah melebihi kecintaan mereka kepada dunia.. yang akan rela berkorban, dan meninggalkan dunia selagi Allah tujuannya.. Yang cintanya takkan pernah habis meski semua isi bumi tak lagi berdamai kepadanya.. Allah telah mempersiapkan mereka untuk lelaki-lelaki shalih penghulu surga…
Seberat itukah?
Ya… Takkan mudah.. sebab surga itu tidak bisa diraih dengan hanya bermalas-malasan tanpa ada perjuangan…
Taipei, 02 Juni 2010

Tentang Ario Muhammad

Terlahir dengan nama Ario Muhammad tanggal 14 September 1987, di pelosok utara Halmahera. Sampai sekarang orang mengenal kecamatan tersebut sebagai... Selengkapnya.

Keyword: , , ,

Pembelajar Tiada Henti

Agar Jeruk Kecut tak Terbuang Percuma

19/6/2012 | 29 Rajab 1433 H | Hits: 2.544
Oleh: Inayatullah Hasyim
Kirim Print
Ilustrasi. (inet)
dakwatuna.com – “Hidup ini kejam”, kata politisi. “Hidup ini keras”, nasihat seorang guru. “Hidup ini pahit”, kata pedagang sayur. “Pahitnya bahkan melebihi buah pare!” Itulah kenyataan yang sering kita hadapi dalam keseharian kita tiap hari. Tagihan listrik, air, telepon, iuran RT, anak-anak sekolah dan berbagai tagihan lainnya bikin kita senewen sepanjang bulan. Walau demikian, tak usah cemberut. Tetaplah tersenyum menghadapinya agar pasangan hidup Anda saat melihat Anda tidak seperti melihat tagihan listrik!
Saudaraku, para mahasiswa dan pasangan muda yang baru menikah, nikmatilah hidup di kontrakan. Percayalah, di dunia ini semua manusia mengontrak. Hanya tenggat waktu “kontrakan” saja yang berbeda. Beruntunglah kalian sebab diingatkan oleh ibu kost tiap bulan agar senantiasa terjaga bahwa pasti ada akhir dari setiap kontrakan.
Saudaraku, para bapak dan ibu yang telah nyaman di rumah sendiri, bayarlah pajak rumahmu. (Ini bukan iklan pajak!). Saya hanya ingin kita semua tersadar, tak ada makan siang yang gratis. Semua harus bayar. Kita mengira telah memiliki rumah seutuhnya, padahal tidak! Saat membangun, Anda mengajukan izin ke lurah dan camat – padahal di atas hak tanah kalian. Setelah bangunan selesai dan ditempati, kita membayar pajak setiap tahun ke negara. Tak pernah Anda betul-betul memiliki sebidang tanah dengan rumah di atasnya. Hakikatnya Anda hanya mengontrak. Hanya saja Anda tak ditagih ibu kost dengan wajah cemberut yang memakai daster lusuh dan gulungan rambut yang belum sempat dibuka!
Nasi menjadi bubur
Pedagang yang cerdas melihat keruwetan jadi peluang. Ia melihat setiap kerugian sebagai titik awal mencapai keuntungan. Sementara, pedagang yang malas hanya menanti hari mujur, padahal tiap hari adalah hari mujur. Seringkali kita saat menerima musibah, menjadikannya titik awal untuk mendapat musibah kedua yang kita ciptakan sendiri. Bukankah Imam Ahmad bin Hambal menghabiskan separuh hidupnya di penjara, tetapi dari itu, ia menjadi seorang alim yang disegani di kalangan ahlus sunnah. Bukankah Imam Ibn Taimiyah mendekam di tempat yang sama dan saat bebas dari sana, menjadi guru besar yang menulis ratusan buku utama dalam agama. Bukankah Ibnu Batutah, petualang Islam abad pertengahan, terdampar di sebuah pulau akibat perahunya karam. Ia tak pesimis, tetapi sebaliknya, Ibn Batutah berhasil menjadikan pulau itu sebuah negara. Itulah Maldives, negara sejuta cinta — maladewa, satu-satunya negara di dunia ini yang mencantumkan dalam konstitusinya, setiap warga negara Maldives wajib beragama Islam.
Kita sering pesimis ketika melihat sesuatu telah terlanjur terjadi. Padahal, tak ada yang percuma. Lihatlah para tukang bubur ayam itu. Mereka berhasil keluar dari ungkapan “nasi telah menjadi bubur”. Sebab mereka menjadikan yang terlanjur itu lebih enak yaitu bubur ayam. Lebih enak dari sekadar nasi, apalagi ditambah emping dan kerupuk di atasnya.
Bukankah ada kisah akan dua orang yang melihat isi sebuah gelas. Ucapan masing-masing berbeda. Andi berkata, “Gelas itu setengah kosong.” Anto berkata, “Gelas itu setengah penuh.” Pernyataan awal bersifat pesimis, sementara pernyataan kedua penuh optimisme. Karena itu, jika rezeki yang Anda dapat hari ini hanya sekantong jeruk yang kecut, jangan dibuang. Peras dan tambahkanlah gula, lalu campur dengan es batu dan hidangkan saat panas menyengat. Jeruk asam itu menjadi sangat nikmat.
فَبِأَيِّ آلَاءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ ﴿١٣﴾
“Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?” (QS. Ar-Rahman: 13)
Be yourself, and do not be others
Saudaraku, sering kali kita berusaha tampil bukan sebagai diri kita. Sehingga, yang terjadi adalah kelucuan yang tak sepatutnya. Oleh karena baru saja melihat teman memakai baju warna biru, Anda pun membeli warna yang sama. Padahal, warna kulit dia putih sehingga saat Anda melihatnya tadi pagi, pakaian itu serasi sekali dengan kulit tubuhnya. Anda? Bukankah kulit Anda sawo matang kejemur? Jadilah diri sendiri tanpa perlu menjadi orang lain. “Aku adalah aku”, kata Chairil Anwar.  Ibn Mas’ud berkata, “اغد عالما او متعلماولا تكون امعة  ” (Esok aku akan jadi seorang yang alim, atau pembelajar. Janganlah menjadi seorang yang hanya terpukau).
Nikmatilah ketentuan Allah atas kita untuk kita optimalkan sesuai kemampuan yang kita miliki. Dengan itu, kita akan menjadi pribadi yang sempurna! Tidak semua pemain drum-band itu harus jadi mayoret. Memang mayoret adalah pusat perhatian. Cantik, lincah dan dapat bergerak ke berbagai arah. Tetapi sebagian lainnya harus memukul drum, sebagian lain meniup terompet, bahkan ada yang hanya membawa kecrek. Dengan demikian, irama drum-band jadi padu, menarik, mengalir dan satu. Tak akan tertukar rezeki dan ketentuan Allah pada kita.
Demikian halnya ketika Nabi Musa diperintahkan untuk memukul batu, agar mengalir darinya air. Para kaum meminum dari dua belas mata air yang berbeda. Mereka sadar, setiap diri mereka adalah ketentuan Allah:
وَإِذِ اسْتَسْقَىٰ مُوسَىٰ لِقَوْمِهِ فَقُلْنَا اضْرِب بِّعَصَاكَ الْحَجَرَ ۖ فَانفَجَرَتْ مِنْهُ اثْنَتَا عَشْرَةَ عَيْنًا ۖ قَدْ عَلِمَ كُلُّ أُنَاسٍ مَّشْرَبَهُمْ ۖ كُلُوا وَاشْرَبُوا مِن رِّزْقِ اللَّهِ وَلَا تَعْثَوْا فِي الْأَرْضِ مُفْسِدِينَ ﴿٦٠﴾
“Dan (ingatlah) ketika Musa memohon air untuk kaumnya, lalu Kami berfirman: “Pukullah batu itu dengan tongkatmu”. Lalu memancarlah daripadanya dua belas mata air. Sungguh tiap-tiap suku telah mengetahui tempat minumnya (masing-masing). Makan dan minumlah rezki (yang diberikan) Allah, dan janganlah kamu berkeliaran di muka bumi dengan berbuat kerusakan.” (QS Al-Baqarah: 60)
Mari mengisi setiap waktu luang
Saudaraku, waktu luang seringkali melenakan kita. Padahal, Rasulullah mengingatkan, dua hal yang manusia sering lengah: sehat dan waktu luang. Imam Syafi’i rahimahullahu ta’ala menulis sebuah syair: 
إني رايت وقوف الماء يفسده () إن سال طاب وإن لم يجري لم يطب 
Aku melihat air yang berhenti, merusak dirinya sendiri (*) Jika mengalir ia niscaya bersih, dan jika tak mengalir, air itu tak lagi mensucikan (kepada yang lain).
Energi yang kita miliki dan tak digunakan untuk apa-apa, sungguh sangat merugikan. Setiap waktu adalah momentum dalam hidup ini. Jika Anda punya waktu luang, bekerjalah.
Hadapilah hidup apa adanya.
Sesungguhnya, hidup ini menjadi mudah, jika kita menghadapinya apa adanya. Jika kita pergi ke kondangan, sesungguhnya tak ada yang meminta kita untuk memakai baju atasan merah muda, bawahan merah tua, sepatu merah marun dan tas merah hati. Kita memaksakan diri melakukan demikian agar terlihat serasi dan matching. Padahal esensi kondangan adalah memenuhi jemputan shohibul bait. Rasulullah SAW mengingatkan, hak mukmin satu dengan lainnya ada enam. Salah satunya, jika diundang, datanglah. Kondangan telah berubah dari ajang silaturahim menjadi fashion show.
Tabiat dunia itu penuh jebakan, dan kepuasan yang kita dapatkan darinya tak lebih dari sesaat. Lihatlah bagaimana kita memaksakan diri membeli gadget terbaru, padahal barang lama masih sangat bagus. Tahu apa sebabnya? Kita merasa cepat bosan. Bukankah setiap kali kita membeli hand-phone baru, dua tiga hari kemudian kita segera merasa jenuh. Padahal, untuk membeli hp itu, kita perlu menabung berbulan-bulan. Begitu seterusnya.
Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan dari Abu Hurairah, Rasulullah SAW berkata,
 ‏ألا إن الدنيا ملعونة ملعون ما فيها إلا ذكر الله
Bukankah dunia itu terlaknat, terlaknat pula jika (mengejarnya) kecuali dengan berdzikir kepada Allah swt.
Shalat dan berdoalah
Jika semua sudah kita lakukan, tapi kok masih saja ada yang mengganjal, bikin uring-uringan, bergegaslah ambil air wudhu dan dirikanlah shalat. Rasulullah SAW acap meminta Bilal dengan berkata, أرحنا يابلال بالصلاة  . Segarkan kami wahai Bilal (dengan kau kumandangkan) shalat.
Shalat adalah ibadah yang sangat eksotis. Kita bersimpuh di hadapan pemilik semua sandiwara kehidupan dunia ini dengan meletakkan kening di altar sajadah. Tanah yang padanya kita letakkan kening itu telah membuat seluruh persoalan dunia yang kita hadapi seakan ikut ditelan bumi. Kita menjadi segar, fresh dan seratus persen kembali. Shalat, kata pepatah bijak Arab, adalah mi’raj seorang mukmin. Mi’raj? Apa maksudnya?
Kita tahu, mi’raj adalah perjalanan yang dilakukan Rasulullah SAW ke shidratul muntaha, tempat akhir dari segala yang akhir. Perjalanan spiritual seperti itu membutuhkan energi yang cukup, bekal yang banyak dan stamina yang tak terbantahkan. Maka, bagi seorang mukmin, shalat menjadi kekuatan energinya dalam bermi’raj kepada Allah SWT, Dzat yang Maha Memutar-balikkan  hati manusia.
Shalat dan doa menjadi alat komunikasi kita secara vertical kepada Allah SWT. Kita tak perlu Wi-Fi untuk terkoneksi. Cukup ambil air wudhu dan tunaikan shalatmu. Buat apa punya gelar banyak tetapi tak pernah gelar sajadah. Shalatlah, karena itu amalan para Nabi saat mereka taqarrub kepada Allah SWT.
Demikian, renungan singkat ini. Semoga bermanfaat. Salam hormat.

Topik:
Keyword: , , ,

Pentingnya Perhatian Terhadap Anak

3/8/2012 | 15 Ramadhan 1433 H | Hits: 1.001
Oleh: Sri Kusnaeni
Kirim Print
Ilustrasi (123rf.com / Jasmin Merdan)
dakwatuna.com - Bismillahirrahmaanirrahim.
Manusia, sebagai makhluk sosial, memiliki kebutuhan untuk berinteraksi dan berkomunikasi. Demikian juga dengan anak-anak, sebagaimana orang dewasa, dia juga butuh berinteraksi dan berkomunikasi. Dalam kehidupan sehari-hari, interaksi dan komunikasi antara anak dan orang tua sangat penting, di mana hal ini akan membentuk kepribadian anak. Dari interaksi, anak belajar banyak hal, melihat contoh, merasakan dan mengamati. Seluruh sikap dan tingkah orang tua akan menjadi cermin bagi anak-anaknya. Maka orang tua harus memberikan contoh terbaik untuk anak-anaknya. Terlebih lagi ibu, karena secara fitrah, ibulah yang relatif lebih banyak bersama anak. Syair Arab mengatakan bahwa: al Ummu madrasatul ula: ibu adalah sekolah yang pertama (buat anak anaknya).
Bagi seorang anak, perhatian dari orang tua, memiliki arti yang sangat penting. Perhatian akan membuat jiwanya menjadi kaya, dan merasa dirinya dihargai dan dianggap penting. Sebaliknya, jika anak kurang mendapatkan perhatian, dia akan merasa bahwa dirinya tidak penting dan perlahan akan timbul kekecewaan dan putus asa. Sekecil apapun perhatian orang tua terhadap anaknya, menjadi penting bagi perkembangan jiwanya. Meski hanya dalam bentuk belaian, ungkapan/ucapan sayang, senyuman, memuji sikap baiknya, menghargai hasil karyanya, mendengarkan kisahnya, sesekali menemaninya bermain. Kedekatan secara psikologis akan terjalin dengan berbagai aktivitas tersebut. Anak akan merasa nyaman, jiwa nya stabil, dan emosinya terkendali. Semua ini merupakan modal yang sangat penting bagi kehidupan anak di masa yang akan datang. Dalam bergaul di tengah masyarakat kelak, di dalam menghadapi berbagai tugas di tempat kerjanya dan dalam menyelesaikan seluruh persoalan, kestabilan jiwa, pengendalian emosi dan perasaan yang nyaman akan sangat dibutuhkan.
Munculnya berbagai peristiwa kejahatan yang dilakukan oleh anak dan remaja, yang membuat kita prihatin, adalah menjadi salah satu indikator adanya sesuatu yang kurang beres dalam interaksi orang tua dengan anak. . Miris mendengarnya, ketika masih dalam suasana peringatan hari anak nasional tanggal 23 juli, di Depok, seorang anak umur 14 tahun , melakukan pembunuhan terhadap 2 orang ( Bapak dan anak), dengan dalih masalah ekonomi, dia diiming-imingi motor oleh orang yang menyuruhnya untuk melakukan pembunuhan. Sering juga kita mendengar, kasus –kasus tawuran pelajar antar sekolah, yang terjadi di berbagai daerah. Kasus-kasus seperti ini, muncul karena anak tidak mendapatkan kehangatan jiwa, emosi yang labil mudah tersulut dan perasaan yang tidak nyaman dalam keluarga dan sekelilingnya. Meski benar bahwa lingkungan akan mempengaruhi perilaku seorang anak, tapi manakala nilai-nilai dalam keluarganya kokoh, lingkungan tidak akan memberikan pengaruh besar. Anak punya imunitas/manaah kuat dari pendidikan orang tua di dalam keluarga.
Kisah sedih seputar perhatian terhadap anak
Beberapa tahun lalu, pernah dimuat sebuah kisah nyata di sebuah harian nasional, kisah sedih dari negeri seberang. Di sebuah keluarga yang cukup berada. Suami istri berkarir di luar rumah. Anak perempuannya selama ini di rumah ditemani oleh pembantunya saja. Suatu hari, anaknya berharap ketika ibunya pulang kantor, dia akan menunjukkan hasil karyanya di sekolah kepada ibunya. Dia berharap sang ibu akan memuji dan menghargai hasil karyanya. Tapi apa yang terjadi, sang ibu pulang dari kantor tidak mempedulikan hasil karya anaknya, dan menyuruhnya untuk disimpan dulu, dia capai mau istirahat.
Duhai, betapa sedih dan hancur hati anak tersebut. Harapannya hilang, senyumnya hambar, matanya basah diusapnya dengan ujung jarinya sambil lari menuju kamar pembantunya. Semalaman sang anak meratapi kesedihannya, kecewa batinnya terhadap sikap ibunya. Pikirannya mulai mengembara, gerangan apa yang dilakukannya untuk membalas kekecewaan hatinya.
Syetan pun menggodanya, dan memberikan inspirasi. Pagi hari ketika ibunya mau berangkat ke kantor, betapa kaget dan kesal hati sang ibu, ketika mendapatkan body mobil kesayangannya penuh dengan goresan-goresan kasar dari benda-benda runcing/tajam. Ini semua dilakukan oleh sang anak, sebagai kompensasi kekesalan terhadap ibunya. Ibu karena kalap, begitu mengetahui bahwa semua itu karena ulah anaknya, spontan memukul tangan anaknya dengan sebuah benda. Tak pernah dibayangkan sebelumnya, ternyata bekas pukulan tadi membuat tangan anak luka dan tak kunjung sembuh, menjadi borok yang oleh dokter direkomendasikan agar diamputasi.
Tragis dan miris…….. Yang tersisa hanyalah penyesalan. Penyesalan besar yang berawal dari kurang kesadaran dan kemauan seorang ibu untuk bisa memberikan perhatian tulus kepada anaknya. Jika sudah seperti ini, siapa yang akan disalahkan? Belajar dari kesalahan orang lain, mestinya membuat kita sebagai orang tua semakin arif /bijaksana dalam berinteraksi dengan anak-anak kita. Anak adalah amanah dari Allah yang kelak harus kita pertanggungjawabkan kepadaNya. Hadir ke dunia dalam keadaan fitrah, harus kembali kepadaNya juga dalam keadaan fitrah. Kullu maulidin yuuladu alal fitrah. Selamat menikmati hari bersama buah hati.
Sri Kusnaeni

Tentang Sri Kusnaeni

Ibu Rumah tangga, sehari-hari beraktivitas dakwah dengan mengisi halaqah dan majelis ta'lim. Amanah sebagai sekretaris Departemen Kajian Bidang... Selengkapnya.

Topik:
Keyword: , , ,
Pembelajar Tiada Henti
video
 Guru adalah bintang yang memberikan arti keindahan dalam gelapnya malam...